PEMENANG LOMBA CERPEN PIM

PMDK Revi, SPMB ku

"Aku udah ndaftar PMDK, lha kamu udah daftar belum?" Kalimat Revi tadi pagi membuat aku sedih. Aku bingung harus menjawab apa. Dia tersenyum kemudian menasehatiku agar secepatnya mendaftar PMDK. Aku tidak mengiyakan atau menolak ajakannya. Memang benar, kurang lebih sebulan lagi PMDK perguruan tinggi terfavorit di kotaku akan segera ditutup. Aku alihkan saja pembicaraan kami ke topik lain. Hati ini makin miris saat Revi sebelumnya menceritakan tentang apa yang akan ia lakukan bila diterima di perguruan tinggi pilihannya itu. Revi ingin menjadi guru BK sama seperti pamanya. Jujur aku iri padanya. Dia gadis yang manis. Nasibnya juga lebih baik dari aku. Paling tidak kedua orang tuannya sudah sangat mapan menurut pandanganku. Ayahnya seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit swasta dan ibunya adalah seorang dosen yang mengajar di satu-satunya perguruan negeri dan terfavorit di kotaku. Lengkap sudah predikat baik Bagi Revi. Dia gadis cantik, pintar, dan dari keluarga yang memiliki latar belakang baik. Mungkin kalkulasi gaji kedua orang tua Revi menembus angka lima juta rupiah perbulan, bahkan lebih. Berbeda seratus delapan puluh derajat denganku. Kedua oarang tuaku hanya orang biasa. Tidak perlu aku katakan pasti orang lainpun sangat bisa menebak profesi apa yang digeluti oleh orang-orang pinggiran yang jauh dari pendidikan dan kata mapan. Untuk hidup saja kedua orang tuaku harus membanting tulang. Bapakku hanya seorang buruh bangunan yang sering berpindah-pindah dari bangunan satu ke bangunan lainnya. Jika tidak ada orang yang memperkerjakannya, bapakku biasanya menjadi kuli angkut barang di pelabuhan. Sedangkan ibuku hampir menghabiskan setengah hari untuk berjualan sayur di pasar tradisional. Aku amat beruntung sampai sekarang aku masih dapat bersekolah. Sedangkan di luar sana masih banyak anak-anak seusiaku yang belum pernah mengecap pendidikan. meski begitu, aku menyadari setamat SMA saja belum cukup untuk memenuhi keinginanku yang menggebu-gebu untuk mendapatkan pendidikan yang lebih saat ini.
Jika aku sedih, apakah suatu kesalahan bagiku? Aku bosan hidup dalam keterbatasan. Terlebih-lebih masalah ekonomi keluargaku yang terkadang membuatku pusing. Andai aku adalah Revina....... Ah........... tidak. Revi tidak sama denganku. Tapi yang bisa aku banggakan saat ini adalah rangkingku jauh di atas Revi. Tetap saja. Serajin apapun aku belajar tidak akan merubah keadaan. Aku tetap tidak bisa melanjutkan sekolahku ke perguruan tinggi. Alasannya simpel. Aku tidak punta uang.
Begitu berartinya uang bagi manusia? Semuanya seolah menjadi mudah hanya dengan uang. Padahal uang itu hanya benda tak bernyawa, hanya alat pembayaran yang sah. Meski aku paham bila uang dapat membeli apa saja. Jangankan pendidikan, keadilan dan kebenaranpun dapat dengan mudah ditukar dengan uang. Dan pada akhirnya cita-citaku untuk menjadi guru fisika harus aku benamkan sedalam-dalamnya, karena aku tak beruang. Betapa beruntungnya kaum beruang di luar sana. Tapi sayang, terkadang uang bagi mereka hanya akan mengelapkan mata dan hati mereka. banyak orang tersesat lantaran uang. Mereka memudahkan cara untuk mendapatkan apa saja meskipun harus membunuh atau menyakiti orang lain sekalipun. Meski uang menyesatkan banyak orang, sekarang aku sangat membutuhkan uang untuk mengejar cita-citaku.
Aku sudah terlalu tua untuk merengek kepada orang tuaku agar mereka menuruti segala keinginanku. Dari mana mereka mendapatkan uang yang nominalnya jutaan itu. Jelas sangat mustahil mereka mengabulkannya dalam waktu beberapa bulan saja. Untuk hidup kami berlima saja sudah sulilt. Aku tidak tega terus-terusan menjadi beban. Pendidikanku selama ini adalah perjuangan mereka. Ada pengorbanan mereka yang terlampau besar untuk ku. Belum lagi ada adik-adikku yang juga masih sangat membutuhkan pendidikan paling tidak hanya sekedar menjadi bekal untuk hidup mereka. Aku sangat menyayangi kedua orang tuaku dan kedua adik lelakiku. Mana tega aku bersikap egois hanya untuk memenuhi keinginanku tanpa memikirkan nasib mereka yang sama sepertiku. Hingga aku tak sanggup mengatakan apa yang yang aku inginkan saat ini pada orang tuaku. Aku malu. Aku malu meminta dan terus meminta. Kapan aku bisa meringankan beban mereka. Orang tuaku sudah sangat tua. Sudah saatnya aku membalas semua budi baik mereka. Aku sadar sesadar-sadarnya jika sampai kapanpun aku tidak akan pernah sanggup untuk membayar kebikan mereka kepadaku. Belasan tahun mereka merawatku tanpa menimbang-nimbang untung dan rugi. Sembilan bulan lebih aku menyiksa ibuku. Belum lagi ibuku harus mempertaruhkan nyawanya hanya untuk mengantarkanku ke dunia ini.
Tuhan........ kenapa serumit ini...........! Aku selalu berusaha mensyukuri setiap hal yang telah Engkau berikan kepadaku. Aku tahu Engkau Maha Pemurah. Aku juga tahu Engkau tidak akan menyiksa batinku seperih ini. Ku usahakan tidak sedikitpun aku melupakan-Mu. Tapi mengapa Engkau seolah melupakanku. Apa Kau tidak mendengar jeritan hatiku yang makin parau ini? Apa Kau belum melihat bagaimana usahaku untuk mempertahankan cita-citaku ini? Setiap pagi aku melipat ratusan kertas hanya untuk mendapatkan uang yang angkanya tak genap tiga ribu rupiah. Belum malamnya, aku berjaga di toko Pak Badrun, supaya aku mendapat tambahan uang lima ribu per harinya. Aku harus belajar lebih giat supaya aku bisa mempertahankan rangkingku. Aku lelah terus-terusan hidup seperti ini. Aku sudah banyak berusaha, kapan Engkau merubah keadaanku. Terkadang aku membenci semua ini. Aku bosan. Aku tidak percaya Engkau akan memperlakukannku seperti ini.
Tapi bagaimana aku bisa masuk perguruan tinggi bila uang yang aku kumpulkan saja masih sangat jauh dari kata cukup. Aku harus berbuat apa lagi? Haruskah aku mencuri? Munkin dengan begitu aku akan lebih cepat mendapatkan uang untuk meneruskan mimpiku ini. Apakah dengan jalan yang seperti itu aku akan baik-baik saja dan aku bisa hidup bahagia. Resikonya terlalu besar untukku. Mana tega aku merugikan hidup orang lain? Apa ada berkah dari kegiatanku itu yang jelas-jelas menyimpang dari norma yang ada.
Lagi-lagi aku menangis. Apa dengan air mata bisa merubah segalanya? Pergolakan batinku sudah sampai di ubun-ubun. Kepalaku pening. Dadaku sesak. Aku berusaha memejamkan mataku. Mungkin tidur adalah kegiatan paling bermakna untuk meredam pikiran picikku terhadap Tuhanku, keluargaku, diriku serta kehidupanku. Maafkan aku.

- - 0%%%%%%%%%0- -
Aku berdiri di depan pintu rumahku. Sudah sangat malam untuk mengetuk pintu rumahku. Aku belum berniat masuk ke dalam untuk melepas lelahku, karena seharian aku memilah-milah sampah plastik kemudian menunggu Toko pak Badrun. Aku duduk, kapalaku ku sandarkan di salah satu tiang kayu. Aku melihat bintang-bintang yang saling beradu memamerkan sinarnya. Mungkin di sana menggantung cita-cita Revi yang tidak terselesaikan. Dia pergi sebelum menyelesaikan apa yang ia mimpikan. Padahal baru sehari ia merasa amat senang karena lolos PMDK.Mungkin juga di sana ada cita-cita ku yang belum kesampaian. Aku memilih berhenti sejenak untuk menata hati dan keuanganku. Bekerja adalah keputusanku untuk meraih apa yang selama ini aku mau. Aku kangen Revi. Di saat yang sama pula aku harus merelakan kepergiannya.
"Jangan terlalu berambisi mengejar sesuatu." Kalimat pak badrun tak sengaja aku dengar ketika beliau menasehati anak perempuannya yang beberapa tahun lebih tua dari ku. aku tidak tahu mereka berdua sedang membicarakan apa. Aku hanya mendengar sepotong-sepotong. Satu kalimat itu terus mendengung di kepalaku. aku sudah sangat menyadari apa maksud kalimat itu. Walau pada kenyataannya, masih ada rasa yang kuat untuk meraih apa yang aku mau. Aku masih berusaha mengumpulkan rupiah untuk kelanjutan sekolahku. Syukurlah setiap tiga hari sekali aku menjadi guru les matematika dan bahasa inggris untuk Candra dan Berta. Paling tidak itu makin memudahkanku untuk masuk ke perguruan tinggi.
Tiga bulan yang lalu aku baru saja lulus Ujian nasional dengan nilai yang lumayan. Mudah-mudahan tahun depan aku bisa ikut SPMB. Tuhan sudah terlanjur memilihkan jalan ini untukku. Mungkin dengan menjalaninya sepenuh hati lebih baik daripada menggerutu menyalahkan siapa dan siapa. bukankah kita bisa belajar dari banyak hal yang ada di sekitar kita. Aku sudah lupa denan semua keterbatasan yang aku punya. Paling tidak aku lebih beruntung dari Revi, karena sampai sekarang aku masih bisa merasakan udara bebas dan berusaha untuk melakukan semuannya dengan sebaik-baiknya. Aku yakin suatu saat nanti aku bisa menembus SPMB dan membayar uang kuliahku secara tunai. Aku akan sangat bangga bila mendapatkan pendidikan yang lebih murni dari hasil keringatku sendiri tanpa harus membebani orang tuaku.
"Coba kamu ada di sini Vi....................., aku akan menceritakan berbagai kegiatan yang aku jalani dalam hidupku. Tuhan............. tolong jaga Revi baik-baik. Selama hidupnya dia selalu berbuat baik. Aku tahu Engkau menyayanginya. aku juga sangat kagum sama kamu Vi........... Ada kesederhanaan di setiap tingkahmu. Kamu gadis lucu yang selalu menghibur dan menasehatiku."
Aku mendengar suara pintu terbuka. Ada ibuku di sana. Ia memintaku untuk segera masuk ke dalam rumah. Aku beranjak dari duduk ku. Aku bangga memiliki keluarga yang selalu mendukung dan menyayangiku dengan tulus. Aku merasa hanya akulah manusia paling beruntung di dunia ini.

nita, smk 1 karanganyar

0 Response to "PEMENANG LOMBA CERPEN PIM"

Posting Komentar